web analytics
Breaking News
Home / Info / History Perang Vietnam, Kekalahan Terbesar Amerika
perang

History Perang Vietnam, Kekalahan Terbesar Amerika

Perang Vietnam atau sering disebut Perang Indochina Kedua adalah konflik panjang yang terjadi di tahun 1957 sampai 1975. Perang ini merupakan konflik antara Komunis Vietnam Utara melawan Kapitalis Vietnam Selatan dan sekutu utamanya, Amerika Serikat.

Konflik tersebut disebabkan perang dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet serta Korea Utara. Lebih dari 3 juta orang termasuk 58.000 tentara Amerika terbunuh dalam perang tersebut dan selebihnya adalah warga sipil Vietnam.

Akhir dari perang Vietnam sendiri memang bukan saat Nixon mengumumkan penarikan tentara AS dan memulai program Vietnamisasi. Perang di Vietnam terus berlangsung hingga 1975.

Pertempuran itu pun tidak berakhir ketika perjanjian Paris 1973 berhasil disetujui. Namun, peperangan itu berhenti setelah Saigon jatuh ke tangan rezim Komunis Vietnam Utara. Dan berikut ulasan lengkap dari Perang Vietnam!

Latar Belakang Perang Vietnam

latar belakang

Vietnam, sebuah negara di Asia Tenggara di ujung timur semenanjung Indochina, berada di bawah pemerintahan kolonial Prancis sejak abad ke-19.

Selama Perang Dunia II, pasukan Jepang dan Prancis menyerang Vietnam. Untuk melawan penjajah Jepang dan pemerintah kolonial Prancis, pemimpin politik Ho Chi Minh terinspirasi oleh komunisme China dan Soviet dan membentuk Viet Minh, atau partai untuk Kemerdekaan Vietnam.

Setelah kalah pada 1945 dalam Perang Dunia II, Jepang menarik tentaranya dari Vietnam dan meninggalkan sekutunya Prancis. Melihat kesempatan untuk merebut kendali negara, pasukan Ho Chi Minh segera bangkit, mengambil alih kota utara Hanoi dan mendeklarasikan sebuah negara Republik Demokratik Vietnam (DRV) bersama Ho sebagai presiden.

Kedua belah pihak menginginkan hal yang sama yaitu Vietnam yang bersatu. Tapi, presiden Ho dan pendukungnya menginginkan sebuah negara yang menganut paham komunisme, sedangkan Kaisar Bao dan pendukungnya menginginkan sebuah negara yang berhubungan erat dengan Barat dari segi ekonomi, budaya serta hukum.

Awal Mula Perang Vietnam

awal mula

Di tahun 1954, Prancis meninggalkan daratan tersebut karena mereka menyerah setelah 9 tahun perang dan Amerika yang menggantikannya. Empat tahun kemudian, Amerika telah memiliki lebih dari puluhan ribu pasukan di Vietnam Selatan. Amerika dibawah presidennya, secara berturut-turut telah melibatkan negaranya untuk terjun kedalam sebuah perang panjang dengan jarak yang sangat jauh.

Namun, setelah pasukan komunis Ho mengambil alih kekuasaan di utara, konflik bersenjata antara tentara utara dan selatan berlanjut sampai pertempuran yang menentukan di Dien Bien Phu pada bulan Mei 1954 dan berakhir dengan kemenangan bagi pasukan Viet Minh utara. Pertempuran ini juga menandakan kekalahan Prancis secara besar-besaran yang akhirnya menyudahi peperangan itu.

Perjanjian yang ditandatangani pada tanggal 20 Juli 1954 di sebuah konferensi Jenewa akhirnya memutuskan untuk membagi Vietnam di sepanjang garis lintang yang dikenal sebagai Paralel ke-17 (17 derajat lintang utara) dan Ho menjadi penguasa di komunis Vietnam Utara.

Barisan Nasional Pembebasan Vietnam Selatan

vietnam selatan

Perang Dingin yang semakin meningkat di seluruh dunia, Amerika Serikat akhirnya membuat kebijakan untuk melawan sekutu Uni Soviet dimanapun dan pada tahun 1955 Presiden Dwight D. Eisenhower telah menjanjikan dukungan kuatnya kepada Diem yang saat itu menjabat sebagai presiden pertama Republik Vietnam dan Kapitalis Vietnam Selatan.

Dengan bantuan pelatihan dan peralatan dari militer Amerika dan CIA, pasukan keamanan Diem menindak para simpatisan Viet Minh di selatan, yang dengan kasar dia sebut Viet Cong (atau Komunis Vietnam), menangkap sekitar 100.000 orang dan banyak di antaranya dianiaya dan dieksekusi secara brutal.

Pada tahun 1957, Viet Cong dan pendukung rezim Diem mulai bertarung serta pada tahun 1959 mereka mulai melibatkan tentara Vietnam Selatan dalam baku tembak.

Pada bulan Desember 1960, banyak penentang Diem di Vietnam Selatan baik komunis maupun non-komunis membentuk Front Pembebasan Nasional (NLF) untuk mengatur perlawanan terhadap rezim tersebut. Meskipun NLF mengaku otonom dan sebagian besar anggotanya bukan komunis, banyak yang menduga itu adalah boneka dari Hanoi yaitu pasukan Ho Chi Minh.

Ngo Dinh Diem adalah Presiden pertama Republik Vietnam. Pada 1945 ia dipenjarakan dan diasingkan ke Tiongkok setelah terjadinya konflik dengan kekuatan Komunis anti-Prancis yang semakin berkuasa di Vietnam.

Setelah dilepaskan, ia menolak untuk bergabung dalam pemerintahan pasca-perang yang berumur pendek, di bawah pimpinan Ho Chi Minh dan mengasingkan dirinya ke Amerika Serikat. Ia kembali ketika diangkat menjadi Perdana Menteri Vietnam Selatan oleh Kepala Negara (bekas kaisar) Bảo Đại pada 1954, setelah Perancis dikalahkan di Dien Bien Phu dan siap untuk menarik diri dari Indochina.

Teori Domino

teori domino

Setelah presiden Dwight D. Eisenhower turun tahta menggantikan Kennedy, konflik ini terus berlanjut. Sebuah tim intelijen yang dikirim oleh Presiden John F. Kennedy pada tahun 1961 untuk melaporkan kondisi di Vietnam Selatan menyarankan agar Amerika mengirim bantuan militer, ekonomi dan teknis untuk membantu Diem menghadapi ancaman Viet Cong.

Teori domino adalah teori yang berspekulasi bahwa apabila sebuah negara di suatu kawasan terkena pengaruh komunisme, negara-negara sekitarnya akan ikut dipengaruhi komunisme lewat efek domino.

Pada musim gugur 1963, setelah oposisi domestik yang serius terhadap Diem muncul, Kennedy mundur dari dukungannya kepada Diem, namun secara terbuka menegaskan kepercayaannya pada teori domino dan pentingnya mengekang komunisme di Asia Tenggara.

Korea Utara Merupakan Sekutu Utama Viet Cong

korut

Korea Utara merupakan sekutu utama dari Vietnam Utara yang dipimpin  Ho Chi Minh. Di awal tahun 1967 Korea Utara mengirim satu skuadron tempur ke Vietnam Utara untuk mendukung skuadron tempur Vietnam Utara ke-921 dan ke-923 yang melindungi Hanoi. Mereka masih berperang hingga tahun 1968 dan 200 pilot dilaporkan telah bertugas. Korea Utara juga mengirimkan senjata, amunisi dan dua juta set seragam untuk rekan-rekan mereka di Vietnam Utara.

Insiden Teluk Tonkin

kapal

Insiden Teluk Tonkin juga dikenal sebagai Insiden USS Maddox, menyebabkan dua konfrontasi terpisah yang melibatkan Vietnam Utara dan Amerika Serikat di perairan Teluk Tonkin.

Laporan Amerika menyalahkan Vietnam Utara untuk kedua insiden, namun akhirnya menjadi sangat kontroversial dengan klaim yang tersebar luas bahwa salah satu atau kedua insiden itu palsu dan mungkin disengaja begitu. Kudeta oleh beberapa jendralnya sendiri berhasil menggulingkan dan membunuh Diem dan saudaranya, Ngo Dinh Nhu, pada bulan November 1963, tiga minggu sebelum Kennedy dibunuh di Dallas, Texas.

Ketidakstabilan politik berikutnya di Vietnam Selatan membuat pengganti Kennedy, Lyndon B. Johnson, dan Sekretaris Pertahanan Robert McNamara untuk lebih meningkatkan bantuan militer dan ekonomi AS kepada Vietnam Selatan.

Pada tanggal 2 Agustus 1964, setelah kapal torpedo Angkatan Laut Vietnam Utara menyerang dua kapal perusak AS di Teluk Tonkin, Johnson memerintahkan pemboman balasan atas penyerangan AL Vietnam Utara.

Akibat dari dua insiden ini, Kongres membuat Resolusi Teluk Tonkin yang memberikan kewenangan kepada Presiden Lyndon B. Johnson untuk membantu setiap negara Asia Tenggara yang pemerintahnya dianggap terancam oleh “agresi komunis”. Resolusi ini berfungsi sebagai pembenaran secara hukum bagi Johnson untuk menggerakkan pasukan konvensional Amerika Serikat dan dimulainya perang terbuka terhadap Vietnam Utara.

Pada bulan Maret 1965, Johnson membuat keputusan dengan dukungan solid dari masyarakat Amerika untuk mengirim pasukan tempur AS ke dalam pertempuran di Vietnam. Pada bulan Juni, 82.000 tentara tempur ditempatkan di Vietnam dan para pemimpin militer meminta lebih dari 175.000 orang lagi pada akhir tahun 1965 untuk menopang tentara Vietnam Selatan yang sedang berjuang melawan Komunis Vietnam Utara.

Terlepas dari kekhawatiran beberapa penasihatnya tentang keputusan ini, Johnson tetap mengizinkan pengiriman 10.000 tentara pada akhir Juli 1965 dan 100.000 lainnya pada tahun 1966. Selain Amerika Serikat, Korea Selatan, Thailand, Australia dan Selandia Baru juga berkomitmen untuk berperang di Vietnam Selatan (meskipun dalam skala pengiriman tentara yang jauh lebih kecil).

Protes Perang Vietnam

protes

Pada November 1967, jumlah tentara Amerika di Vietnam mencapai 500.000 orang, dan korban dari tentara AS telah mencapai 15.058 tewas dan 109.527 terluka. Saat perang membara, beberapa tentara tidak mempercayai alasan pemerintah untuk menahan mereka di sana, dan juga Washington selalu membenarkan bahwa perang tersebut dimenangkan oleh Amerika Serikat.

Menurut sebuah survei oleh kelompok Veteran Perang Vietnam, sekitar 500.000 dari 3 juta tentara Amerika yang bertugas di Vietnam menderita gangguan depresi tingkat tinggi sehingga membuat tingginya tingkat perceraian, bunuh diri, kecanduan alkohol dan kecanduan obat-obatan.

Gerakan penentangan terhadap keterlibatan pemerintah AS dalam Perang Vietnam merupakan suatu gerakan yang dimulai di AS dengan sebuah demonstrasi pada tahun 1964 dan bertumbuh terus pada tahun-tahun berikutnya.

Gerakan damai ini tidak hanya diikuti oleh kaum pelajar, ibu rumah tangga, atau hippie anti-penetapan, namun juga dari berbagai kalangan seperti pengajar, rohaniwan, akademisi, jurnalis, pengacara, psikologi (seperti Benjamin Spock), veteran militer dan golongan lainnya.

Serangan Tet

tet

Serangan Tet adalah serangkaian operasi penyerangan pada masa Perang Vietnam, yang dikoordinasi kekuatan batalyon Pasukan Bersenjata Pembebasan Rakyat (PLAF) atau Viet Cong dari Front Nasional untuk Pembebasan Vietnam melawan Tentara Republik Vietnam (ARVN) dari Vietnam Selatan ditambah militer AS dan pasukan-pasukan sekutu ARVN lainnya.

Pada akhir tahun 1967, pemimpin pasukan komunis Hanoi juga semakin tidak sabar, dan berusaha memukul pasukan Amerika dan sekutunya untuk mundur.

Operasi ini disebut Serangan Tet karena waktunya bertepatan dengan malam 30 Januari-31 Januari 1968, Tết Nguyên Đán (Tahun Baru Imlek). Pada tanggal 31 Januari 1968, sekitar 70.000 pasukan DRV di bawah Jenderal Vo Nguyen Giap meluncurkan Serangan Tet di lebih dari 100 kota di Vietnam Selatan.

Serangan Tet ini menghasilkan serangan operasional yang menghancurkan bagi pemerintah Vietnam. Namun, meskipun keliru, Serangan Tet ini dianggap sebagai titik balik dari perang di Vietnam. Di sini NLF memperoleh kemenangan psikologis dan propaganda besar-besaran sehingga menyebabkan hilangnya dukungan rakyat AS terhadap Perang Vietnam dan akhirnya pasukan-pasukan AS pun ditarik mundur.

Serangan Tet sering dipandang sebagai contoh tentang pentingnya propaganda dan pengaruh media dalam upaya mencapai tujuan-tujuan militer, sebuah ajaran penting dalam perang modern pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21.

Meskipun sebagian pihak menegaskan bahwa kekalahan ini disebabkan karena kurangnya dukungan terhadap Johnson karena ia tidak mau melaksanakan perang itu secara efektif. Pada 31 Maret, Johnson mengumumkan bahwa ia tidak ingin mencalonkan diri lagi dan akhirnya pengeboman terhadap Vietnam Utara dihentikan.

Agen Oranye

oranye

Ini merupakan kejahatan perang Amerika Serikat. Dalam peperangan herbisida tersebut, sejumlah herbisida termasuk Agen Oranye digunakan dengan maksud untuk menghancurkan produksi bahan pangan dan pepohonan yang dijadikan sebagai tempat bersembunyinya musuh. Agen Oranye digunakan dari 1961 hingga 1971, dan di antara semua yang disebut “herbisida pelangi” yang disebut paling berbahaya digunakan Amerika dalam perang ini.

Dari dua juta orang Vietnam yang terbunuh selama masa perang, sekitar satu juta adalah korban agent orange. Selain menebarkan agent orange ke seluruh penjuru Vietnam, lebih dari dua puluh kali pasukan khusus AS menggunakan gas syaraf sarin kepada tentara Vietnam maupun sipil.

Agen Oranye mengandung dioksin, racun yang merusak pusat susunan syaraf dan melumpuhkan sistem kekebalan tubuh, menyebabkan kanker, diabetes, bronkhitis kronis, denyut jantung tak beraturan, kerusakan kalenjer gondok, IQ rendah pada anak-anak, bayi lahir cacat, kerusakan otak, sumbing, katarak dan cacat kaki.

Vietnamisasi

as

Setelah pemilu, Amerika melalui presiden barunya Richard Nixon tetap melancarkan serangan ke Vietnam Utara.
Hal yang paling melekat dari diri Nixon adalah, kebijakan ‘Vietnamisasi’ yang dibuat untuk menyelesaikan perang yang berlarut–larut antara Amerika Serikat dengan Vietnam. Dalam menyelesaikan perang di Vietnam, Nixon disebut sebagai pemimpin yang gila dan dikritik oleh banyak pihak. Hal ini disebabkan karena keputusan–keputusan yang dikeluarkan oleh Nixon terkesan frontal dan kontroversial.

Awalnya Nixon mengeluarkan kebijakan bahwa Amerika Serikat akan menarik seluruh pasukannya dari Vietnam asalkan pemerintah Vietnam tidak menambah kekuatan pasukan tentara Vietnam itu sendiri. Selain itu, Nixon juga memberikan kebebasan pada pemerintahan Vietnam untuk mengotorisasi pemerintahannya sendiri, tanpa campur tangan dari Amerika Serikat.

Namun sebenarnya, hal ini bukan tanpa campur tangan Amerika Serikat sama sekali. Karena Amerika Serikat memilih calon pemimpin bagi Vietnam yaitu Nguyen Van Thieu. Dimana pemilihan ini diwarnai dengan pemaksaan masyarakat dan doktrin agar memilih ‘boneka’ dari Amerika Serikat ini.

Nixon sendiri ternyata mempunyai rahasia rencana tersendiri bagi Amerika Serikat. Dimana Amerika Serikat memang menarik seluruh pasukannya dari Vietnam, tetapi malah semakin menggencarkan pemboman dan peluncuran misil ke wilayah Vietnam itu. Hal inilah yang membuat Nixon dijuluki sebagai pemimpin yang gila karena melakukan serangan yang membabi buta.

Tragedi My Lai

my-lai

Pembantaian di Vietnam pada tanggal 16 Maret 1968 merupakan salah satu peristiwa tersadis dalam sejarah perang modern. Hanya seorang tentara AS saja yang diajukan ke pengadilan untuk mempertanggung-jawabkan kejadian ini.

Pada saat Perang Vietnam, Provinsi Quang Ngai di Vietnam Selatan dicurigai menjadi tempat perlindungan gerilyawan Angkatan Bersenjata Pembebasan Rakyat dan kader-kader lainnya dari Front Nasional untuk Pembebasan Vietnam (FNPV), yang juga disebut Viet Cong oleh pasukan-pasukan AS dan simpatisan mereka.

Tempat ini secara tidak resmi disebut Pinkville (karena warna merah jambu yang dicetak pada peta) oleh militer AS, dan provinsi ini sering dibom dan ditembaki. Pada 1968 hampir semua rumah di seluruh provinsi ini telah hancur atau rusak.

Pasukan-pasukan AS tidak menemukan pemberontak di desa itu pada pagi tanggal 16 Maret 1968. Tentara-tentara itu, satu pleton yang dipimpin oleh Letnan William Calley, membunuh ratusan warga sipil terutama kaum lelaki tua, perempuan, anak-anak, dan bayi. Sebagian disiksa atau diperkosa. Lusinan digiring ke sebuah lubang dan ditembak mati dengan senjata otomatis.

Pada satu kesempatan, Calley mengungkapkan maksudnya untuk melemparkan sejumlah granat ke sebuah liang yang penuh dengan warga desa. Jumlah warga sipil tidak bersenjata yang tewas menjapai 500 jiwa.

Penembakan di Universitas Kent

kent

Pada tanggal 30 April 1970, Presiden Richard M. Nixon tampil di televisi nasional untuk mengumumkan invasi Kamboja oleh Amerika Serikat dan kebutuhan untuk merancang 150.000 lebih tentara untuk perluasan usaha Perang Vietnam. Ini memprovokasi demonstrasi besar-besaran di kampus-kampus di seluruh negeri Paman Sam.

Pada tahun itu juga sebuah operasi gabungan koalisi Vietnam Selatan-AS menyerang Kamboja, dengan harapan dapat menghapus basis pasokan DRV di sana. Sesaat setelah serangan di Kamboja, sekutu negara tersebut, Vietnam Utara melancarkan serangan balas dendam. Mereka membombardir Vietnam Selatan tanpa ampun.

Melihat Vietnam Selatan terus terdesak, AS akhirnya kembali turun tangan. Lewat serangan udara, akhirnya pasukan Vietnam Utara dapat dipukul mundur.

Invasi negara-negara ini melanggar hukum internasional, memicu gelombang protes baru di kampus-kampus di seluruh Amerika. Pada tanggal 4 Mei 1970, di Kent State University di Ohio, Garda Nasional menembak dan membunuh empat siswa. Dan 10 hari kemudian, dua siswa di Jackson State University di Mississippi dibunuh oleh polisi.

Namun, pada akhir Juni 1972, setelah serangan yang gagal ke Vietnam Selatan, Hanoi akhirnya bersedia bernegoisasi. Henry Kissinger yang menjabat Penasihat Keamanan Nasional AS dan perwakilan Vietnam Utara merancang sebuah kesepakatan perdamaian pada awal musim gugur, namun para pemimpin di Saigon menolaknya dan pada bulan Desember Nixon memberi wewenang sejumlah serangan bom terhadap sasaran di Hanoi dan Haiphong. Dikenal sebagai Bom Natal, pengeboman tersebut menimbulkan kecaman internasional.

Berakhirnya Perang Vietnam

akhir

Pada bulan Januari 1973, Amerika Serikat dan Vietnam Utara mengakhiri sebuah kesepakatan damai yang mengakhiri permusuhan terbuka antara kedua negara. Perang antara Vietnam Utara dan Selatan benar-benar berkahir pada tanggal 30 April 1975, ketika pasukan DRV merebut Saigon, menamainya kembali dengan nama Ho Chi Minh City (Ho sendiri meninggal pada tahun 1969).

Lebih dari dua dekade perang dingin ini telah menimbulkan korban yang menghancurkan populasi Vietnam. Setelah bertahun-tahun peperangan, diperkirakan 2 juta orang Vietnam terbunuh, sementara 3 juta orang terluka dan 12 juta lainnya menjadi pengungsi. Perang ini telah menghancurkan infrastruktur dan ekonomi negara tersebut, dan rekonstruksi berjalan perlahan.

Pada tahun 1976, Vietnam disatukan sebagai Republik Sosialis Vietnam, meskipun kekerasan sporadis berlanjut selama 15 tahun ke depan, termasuk konflik dengan negara tetangga China dan Kamboja. Di bawah kebijakan pasar bebas yang luas diberlakukan pada tahun 1986, ekonomi mulai membaik, didorong oleh pendapatan ekspor minyak dan masuknya modal asing. Hubungan perdagangan dan diplomatik antara Vietnam dan AS berlanjut pada 1990-an.

Di Amerika Serikat, dampak dari Perang Vietnam berlangsung lama setelah tentara terakhir kembali ke rumah pada tahun 1973. Negara ini menghabiskan lebih dari $120 miliar untuk konflik di Vietnam dari tahun 1965-73. Pengeluaran besar ini menyebabkan inflasi meluas, diperburuk oleh krisis minyak dunia pada tahun 1973 dan melonjaknya harga bahan bakar.

Secara psikologis, efeknya semakin dalam. Perang telah mematahkan mitos bahwa Amerika tak terkalahkan dan telah membagi bangsa secara menyedihkan. Banyak tentara yang kembali ke AS  dengan keadaan depresi bahkan banyak diantaranya gantung diri.

Dan sejarah mencatat bahwa negara Amerika Serikat, yang dikenal dengan negara adikuasa pernah menelan kekalahan, saat perang melawan Vietnam Utara.

Check Also

Abraham Lincoln

Biografi Abraham Lincoln, Presiden Ke-16 Amerika Serikat

Abraham Lincoln adalah presiden ke-16 Amerika Serikat, menjabat sejak 4 Maret 1861. Dia mempertahankan Amerika …